Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang. Kedua gejala ini berakibat pada menurunnya kekuatan tulang dan peningkatan kerapuhan bahkan berisiko terjadinya patah tulang.
Gejala-gejala osteoporosis seringkali sulit dideteksi saat gejala pertama menyerang dan tanda-tanda fisik tidak tampak hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Tidak sedikit penderita yang baru menyadarinya saat terjadi patah tulang. Oleh sebab itu, osteoporosis kerap disebut sebagai silent disease atau silent epidemic (penyakit yang menyerang secara diam-diam).
Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi karena hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terhadap penyakit. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini.
Kaum adam juga memiliki risiko yang sama dan juga dipengaruhi oleh hormone estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat.
Osteoporosis merupakan masalah kesehatan global yang terjadi di banyak negara. Sedikitnya terdapat 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Berdasarkan catatan International Osteoporosis Foundation (IOF), saat ini satu dari tiga wanita dan satu dari lima laki-laki usia di atas 50 tahun terkena osteoporosis. IOF, bekerjasama dengan Fonterra Brands dan mitra di berbagai Negara, juga mempublikasikan data biaya total perawatan akibat patah tulang pinggul yang berkisar 1.400-4.700 dolar AS. Di Indonesia sendiri, dua dari lima penduduknya berisiko terkena osteoporosis (Puslitbang Gizi dan makanan Departemen Kesehatan RI, 2006).
Penelitian persentase kasus osteoporosis Indonesian White Template yang dilakukan di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan 30-40 persen dari populasi perempuan di atas 50 tahun menderita osteopenia (osteoporosis dini). Sementara penyakit osteoporosis menjangkiti 25-55 persen perempuan di atas 50 tahun, dan 5-25 persen laki-laki di atas 50 tahun. Dari jumlah tersebut, terdapat 20 persen pasien penderita yang mengalami cidera tulang (fraktur).
Sementara itu, Yayasan Osteoporosis Internasional prevalensi osteoporosis kaum hawa di Indonesia untuk usia kurang dari 70 tahun sebanyak 18-36%, dan kaum adam mencapai 20-27%. Sedangkan untuk umur di atas 70 tahun mencapai 53,6% untuk wanita dan 38% untuk pria. Yayasan Osteoporosis Internasional juga memprediksi lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050.
Nah, dalam rangka menekan angka penderita osteoporosis, setiap pihak mulai terlibat dalam edukasi osteoporosis yang mencakup pengenalan, pencegahan dan pengobatan penyakit ini. Salah satu kata kunci dalam menangani penyakit ini adalah pentingnya diagnose dokter sehingga pengobatan yang dilakukan mendapatkan hasil maksimal.
Edukasi tentang pentingnya pengobatan osteoporosis didasari pada persepsi kebanyakan masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai gejala biasa, bukan sebagai penyakit yang perlu didiagnosa dan diobati secara medis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar